Laman

Friday, January 6, 2012

mungkinkah mencoba menyelamatkan idealisme yang tak bersahabat dengan realitas?

Manusia adalah makhluk yang memiliki pilihan. Pilihan-pilihan tersebut berkeliaran dengan liarnya begitu menarik perhatian kita. kita dijerat memilih atas nama kebebasan. Merasa ini adalah hidupku. akulah yang berhak memilih pilihan itu. Kau, engkau, mereka, ataupun siapapun itu (bahkan apapun itu) tak berhak ikut campur dalam kehidupanku. lantas, benarkah apa yang kita pilih tersebut? apakah kebenaran didasari oleh kebebasan? apakah kebenaran didasari oleh keinginan? tentunya keinginan menjadi logika sahih atas kebebasan. apakah ada orang yang memilih dengan kebebasan tanpa didasari oleh keinginannya?

Manusia sebagai makhluk hidup memiliki tahapan siklus. masa anak-anak, remaja, dewasa, orang tua dan pada akhirnya mati hingga dikenang di sebuah kuburan tua. pada masa anak-anak hingga remaja (bahkan mungkin dewasa) terkadang urusan kehidupan manusia diatur oleh pilihan orang tuanya. orang tua berkilah, bahwa mereka merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya. jadilah kebenaran ditentukan oleh usia.

belum lagi jika kita ingin memilih pasangan hidup. apakah yang menjadi legalitas kebenarannya? " Aku memilihnya karena sama-sama satu suku dan satu agama." jadilah kebenaran memilih cinta didasari oleh kebenaran primodial.

pertanyaan pamungkasnya adalah apakah pilihan yang kita pilih atas nama kebebasan itu bersahabat dengan realitas? "aku ingin kuliah jurusan filsafat, sastra, seni, sosiologi dan antropologi." " kamu mau jadi apa memilih jurusan itu?" "kenapa kamu tidak memilih jurusan hukum, ekonomi, ataupun teknik?" lantas cibiran pun terlontar atas nama logika realitas yang kejam itu.

orang yang memilih jurusan "absurd atas nama realitas" tersebut pada akhirnya kalah dengan dengan realitas ketika mereka pada akhirnya dihadapkan pada persaingan mencari penghidupan. realitas tak akan ramah terhadap mereka yang memiliki kemurnian idealisme. pada akhirnya manusia bergumul dengan perut. idealisme di lelang dalam bursa kerja. mengubur kemampuannya dalam kontrak kerja. hingga akhirnya mereka yang merasa "pilihan" tertawa dan bertahta dalam kehidupan.

akhirnya apakah dapat menyelamatkan idealisme dalam lumpur realitas? saya sedang mencobanya.

6 comments:

Wibby Nandana said...

Kalau sudah ada contohnya, tulis di blog lagi ya :)

Ernflaw said...
This comment has been removed by the author.
erlyn said...

bisa aja kok idealisme berjalan dengan realitas, asal tahu caranya, asal tahu jalannya

Ernflaw said...

manusia= tubuh+jiwa.
tubuh= ga bisa lepas dari realitas.
jiwa= cendrung bebas, idealis.

Well, karena tubuh dan jiwa menyatu,
satu2nya jalan yg bisa kita lakukan adalah menjaga keseimbangan di antara keduanya.

mungkin aja kita nyelametin idealisme yg gak bersahabat dgn realitas, asal ada kesiapan dan kesempatan.

tapi andaikata kita ga bisa nyelametin idealisme-yg-gak-bersahabat-dgn-realitas itu td, ya tinggal ubah perspektif kita aja ttg apa yg kita permasalahkan.

Anonymous said...

setuju sama mba bia, ahahahah kalo ada contohnya tulis di blog ini ahahahhah

larasatyaprillia said...

aku perlu memahami lebih dalam arti ini semua... tp ini tulisan yg menarik :)