Laman

Saturday, January 21, 2012

Lawan "jahiliyah" dengan "sense of reality"

Ini adalah sebuah tulisan kejengkelan terhadap "mereka" yang tidak berani menatap hidupnya. Yang berpegang terhadap utopia. terlalu percaya terhadap rekayasa dogmatik, yang kehilangan rasio akibat terjerumus psedou-altruisme yang berujung pada absurditas mesianistik. mereka percaya kepada kehendak bebas tapi tak sadar gaya hidup mereka pre-destinasi.

sekali lagi. Tuhan( atau apapun Anda bernama) memberikan kita rasio bukan untuk kita berpasrah terhadap kenyataan. hidup hari ini tak akan pernah sama dengan hidup seratus tahun yang lalu. mungkin yang sama hanyalah manusia membutuhkan makanan.

seorang filsuf tak berguna ketika mereka tidak memiliki sense of reality. hanya berkicau di kursi singasana tanpa ada kontribusi terhadap realitas.

seorang pemuka agama tak berguna ketika hanya bercerita tentang pengalaman pribadinya yang menggantikan esensi religiositas.

terakhir untuk mereka yang terlalu bermain terhadap hidup. ingat jangan sampai anda salah menafsirkan apa yang dimaksud menyerahkan hidup kepada Tuhan dengan kebodohan artifisial.

Saturday, January 14, 2012

Adaptasi tanpa mengubah esensi.

menurut heraklaitos ""Yang ada"itu tidak pernah tetap. selalu berubah." demikian juga dengan manusia. manusia selalu mengalami perubahan. Ia lahir, Tumbuh dan mati. manusia tidak pernah berada dalam waktu yang tetap. dia senantiasa berubah. oleh karena itu, manusia harusnlah memiliki kemampuan adaptasi yang baik. namun adaptasi seperti apa itu?

hendaklah kita beradaptasi tanpa mengubah esensi kita. seperti air, dimanapun dia berada, di botol, di gelas, di mangkuk, air senantiasa beradaptasi dengan lingkungannya. meski air senantiasa menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya, esensi air tidak pernah berubah. dimanapun dia berada, dimana tempat dia berdiam air tetaplah air.

Friday, January 6, 2012

mungkinkah mencoba menyelamatkan idealisme yang tak bersahabat dengan realitas?

Manusia adalah makhluk yang memiliki pilihan. Pilihan-pilihan tersebut berkeliaran dengan liarnya begitu menarik perhatian kita. kita dijerat memilih atas nama kebebasan. Merasa ini adalah hidupku. akulah yang berhak memilih pilihan itu. Kau, engkau, mereka, ataupun siapapun itu (bahkan apapun itu) tak berhak ikut campur dalam kehidupanku. lantas, benarkah apa yang kita pilih tersebut? apakah kebenaran didasari oleh kebebasan? apakah kebenaran didasari oleh keinginan? tentunya keinginan menjadi logika sahih atas kebebasan. apakah ada orang yang memilih dengan kebebasan tanpa didasari oleh keinginannya?

Manusia sebagai makhluk hidup memiliki tahapan siklus. masa anak-anak, remaja, dewasa, orang tua dan pada akhirnya mati hingga dikenang di sebuah kuburan tua. pada masa anak-anak hingga remaja (bahkan mungkin dewasa) terkadang urusan kehidupan manusia diatur oleh pilihan orang tuanya. orang tua berkilah, bahwa mereka merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya. jadilah kebenaran ditentukan oleh usia.

belum lagi jika kita ingin memilih pasangan hidup. apakah yang menjadi legalitas kebenarannya? " Aku memilihnya karena sama-sama satu suku dan satu agama." jadilah kebenaran memilih cinta didasari oleh kebenaran primodial.

pertanyaan pamungkasnya adalah apakah pilihan yang kita pilih atas nama kebebasan itu bersahabat dengan realitas? "aku ingin kuliah jurusan filsafat, sastra, seni, sosiologi dan antropologi." " kamu mau jadi apa memilih jurusan itu?" "kenapa kamu tidak memilih jurusan hukum, ekonomi, ataupun teknik?" lantas cibiran pun terlontar atas nama logika realitas yang kejam itu.

orang yang memilih jurusan "absurd atas nama realitas" tersebut pada akhirnya kalah dengan dengan realitas ketika mereka pada akhirnya dihadapkan pada persaingan mencari penghidupan. realitas tak akan ramah terhadap mereka yang memiliki kemurnian idealisme. pada akhirnya manusia bergumul dengan perut. idealisme di lelang dalam bursa kerja. mengubur kemampuannya dalam kontrak kerja. hingga akhirnya mereka yang merasa "pilihan" tertawa dan bertahta dalam kehidupan.

akhirnya apakah dapat menyelamatkan idealisme dalam lumpur realitas? saya sedang mencobanya.