Laman

Friday, December 25, 2015

MURID FAVORITE 2015




Setiap orang pasti memiliki kesan dan cerita di tahun 2015 ini. Sama seperti orang kebanyakan saya pun memiliki kesan kepada beberapa murid saya. Kesan itu yang membuat mereka menjadi murid favorit saya di tahun ini.

1.       Karen Geraldine
Meski hanya setahun mengajar Karen, tetapi kesan inspiratif selalu melekat dalam pikiran saya. Dia adalah salah satu talenta sekolah yang bersinar secara positif. Komposisi apik melekat pada dirinya. Pintar, berkarakter baik, supel dan yang terpenting dia tahu bagaimana menikmati hidup sebagaimana teman-teman seusianya.

2.        Ronaldo Henrich
Meski kurang mampu bersoalisasi dengan baik kepada teman-temannya. Ronaldo adalah seorang anak yang memiliki integritas yang tinggi. Dia menunjukkan anti mainsteam sesungguhnya. Ambisi dan integritas terbungkus elegan dalam bingkai cita-cita sebagai seorang pengacara. Ini menjadi modal yang baik untuk membekali menjadi seorang pengacara kelak.

3.       Leonardus
Pria berbadan sehat ini merupakan seseorang kepribadian yang memiliki hasrat intelektual yang tinggi. Cara berpikirnya sangat mengagumkan. Sistematis, logis dan radikal. Gagasannya liar meski harus diarahkan dengan baik. Saya berharap dia bisa menjadi seorang filsuf masa depan Indonesia.

4.       Nadya
Bukan hanya pintar, perempuan ini memiliki beberapa inspirasi. Mampu berbagi ilmu pengetahuan yang baik, ramah dan memiliki daya juang yang baik. terbukti dia mampu menjadi yang terbaik secara akademis di jenjang IPS.


Cinta tanpa sekat



Apakah manusia benar-benar bebas? Ini adalah sebuah pertanyaan mendasar yang sedang berputar-putar untuk saya pikirkan. Marilah kita masuk ke dalam pikiran saya untuk mengelaborasi masalah ini lebih radikal lagi.

Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah ternama di jakarta mengadakan natal dengan tema kasih tanpa sekat. Ini sebuah refleksi teologis yang berusaha memahami keadaan realitas yang memaksa manusia untuk memberikan batas secara tegas terhadap sesamanya. Apakah ini menjadi persoalan? Ya memang.

Pertama-tama, dapatlah kita ajukan pertanyaan terlebih dahulu. Mengapa manusia membuat batas? Batas itu sebenarnya diciptakan secara kultural bukan etis. Artinya budaya memberikan manusia untuk mendefinisikan identitasnya sesuai dengan maunya budaya. Padahal budaya tidak memberikan kebebasan untuk manusia mendefisinikan identitas dirinya sendiri. Budaya menghegemoni dan mengatur secara halus kepada manusia. Manusia seolah-olah diberikan pilihan. Padahal manusia memilih karena pilihan sudah disedikan dan diberikan sekat berdasarkan standart budaya.

Ini menjadi persoalan. Mengapa? Ingat bahwa identitas manusia itu sifatnya cair. Identitas senantiasa mendefinisikan ulang makna dirinya yang harusnya lepas dari aturan primordial yang melekat pada pribadinya.  Secara radikal, harusnya atribut purba macam, agama, nama, suku bangsa, ras tidak lagi berdasarkan klasifikasi budaya. Tapi memang karena pilihan manusia itu sendiri.

Jika gagasan ini diterima, maka persoalan cinta menjadi lebih muda dipahami. Tidak ada lagi, memilih pasangan berdasarkan standart primordial tersebut. Cinta kembali pada fitrahnya yang diusung dalam gagasan “cinta tanpa sekat”. Sekat primordial sudah diterabas untuk memberikan kepada individu memilih secara etis. Tidak ada lagi kamuflase yang diatur oleh budaya.

Cinta kembali kepada kodratnya. “Cinta yang memilih kita. Bukan budaya yang mengatur kita”