Apakah manusia benar-benar bebas? Ini adalah sebuah
pertanyaan mendasar yang sedang berputar-putar untuk saya pikirkan. Marilah kita
masuk ke dalam pikiran saya untuk mengelaborasi masalah ini lebih radikal lagi.
Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah ternama di jakarta
mengadakan natal dengan tema kasih tanpa sekat. Ini sebuah refleksi teologis
yang berusaha memahami keadaan realitas yang memaksa manusia untuk memberikan
batas secara tegas terhadap sesamanya. Apakah ini menjadi persoalan? Ya memang.
Pertama-tama, dapatlah kita ajukan pertanyaan terlebih
dahulu. Mengapa manusia membuat batas? Batas itu sebenarnya diciptakan secara
kultural bukan etis. Artinya budaya memberikan manusia untuk mendefinisikan
identitasnya sesuai dengan maunya budaya. Padahal budaya tidak memberikan
kebebasan untuk manusia mendefisinikan identitas dirinya sendiri. Budaya menghegemoni
dan mengatur secara halus kepada manusia. Manusia seolah-olah diberikan
pilihan. Padahal manusia memilih karena pilihan sudah disedikan dan diberikan
sekat berdasarkan standart budaya.
Ini menjadi persoalan. Mengapa? Ingat bahwa identitas
manusia itu sifatnya cair. Identitas senantiasa mendefinisikan ulang makna
dirinya yang harusnya lepas dari aturan primordial yang melekat pada pribadinya. Secara radikal, harusnya atribut purba macam,
agama, nama, suku bangsa, ras tidak lagi berdasarkan klasifikasi budaya. Tapi memang
karena pilihan manusia itu sendiri.
Jika gagasan ini diterima, maka persoalan cinta menjadi
lebih muda dipahami. Tidak ada lagi, memilih pasangan berdasarkan standart
primordial tersebut. Cinta kembali pada fitrahnya yang diusung dalam gagasan “cinta
tanpa sekat”. Sekat primordial sudah diterabas untuk memberikan kepada individu
memilih secara etis. Tidak ada lagi kamuflase yang diatur oleh budaya.
Cinta kembali kepada kodratnya. “Cinta yang memilih kita.
Bukan budaya yang mengatur kita”
No comments:
Post a Comment