Laman

Friday, December 25, 2015

Cinta tanpa sekat



Apakah manusia benar-benar bebas? Ini adalah sebuah pertanyaan mendasar yang sedang berputar-putar untuk saya pikirkan. Marilah kita masuk ke dalam pikiran saya untuk mengelaborasi masalah ini lebih radikal lagi.

Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah ternama di jakarta mengadakan natal dengan tema kasih tanpa sekat. Ini sebuah refleksi teologis yang berusaha memahami keadaan realitas yang memaksa manusia untuk memberikan batas secara tegas terhadap sesamanya. Apakah ini menjadi persoalan? Ya memang.

Pertama-tama, dapatlah kita ajukan pertanyaan terlebih dahulu. Mengapa manusia membuat batas? Batas itu sebenarnya diciptakan secara kultural bukan etis. Artinya budaya memberikan manusia untuk mendefinisikan identitasnya sesuai dengan maunya budaya. Padahal budaya tidak memberikan kebebasan untuk manusia mendefisinikan identitas dirinya sendiri. Budaya menghegemoni dan mengatur secara halus kepada manusia. Manusia seolah-olah diberikan pilihan. Padahal manusia memilih karena pilihan sudah disedikan dan diberikan sekat berdasarkan standart budaya.

Ini menjadi persoalan. Mengapa? Ingat bahwa identitas manusia itu sifatnya cair. Identitas senantiasa mendefinisikan ulang makna dirinya yang harusnya lepas dari aturan primordial yang melekat pada pribadinya.  Secara radikal, harusnya atribut purba macam, agama, nama, suku bangsa, ras tidak lagi berdasarkan klasifikasi budaya. Tapi memang karena pilihan manusia itu sendiri.

Jika gagasan ini diterima, maka persoalan cinta menjadi lebih muda dipahami. Tidak ada lagi, memilih pasangan berdasarkan standart primordial tersebut. Cinta kembali pada fitrahnya yang diusung dalam gagasan “cinta tanpa sekat”. Sekat primordial sudah diterabas untuk memberikan kepada individu memilih secara etis. Tidak ada lagi kamuflase yang diatur oleh budaya.

Cinta kembali kepada kodratnya. “Cinta yang memilih kita. Bukan budaya yang mengatur kita”


No comments: