Laman

Wednesday, December 29, 2010

Menyoal kembali makna interdenominasi

Menyoal kembali makna interdenominasi

 

Di sebuah sudut-sudut kelas di salah satu gedung di kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya ada sekelompok mahasiswa yang sedang kebingungan untuk menentukan mau makan dimana setelah mereka selesai kuliah. Ada yang mengusulkan untuk makan di kantin Fasilkom dengan alasan lebih tenang dan bebas dari asap rokok. Ada juga yang mengusulkan untuk makan di Kansas karena makanannya jauh lebih murah. Akhirnya karena banyak yang lagi krisis keuangan mereka memutuskan untuk makan di Kansas.

           

            Di sela-sela kesibukan aktivitas intelektual di kampus kita ini ternyata terdapat juga persekutuan. Persekutuan ini bersifat interdenominasi. Apa maksudnya? Inter artinya saling, antar atau antara. Sedangkan denominasi adalah aliran. Jadi, interdenominasi adalah kesaling terhubungan antara aliran-aliran di dalam Kristen. Sehingga dari berbagai aliran gereja bisa sama-sama bersekutu di dalam persekutuan kampus. Lantas, mengapa wajah interdenominasi di persekutuan FIB adalah oikumene? Untuk mengetahui jawabnya, saya akan menguraikan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan oikumene. Oikumene secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu όικος  yang artinya rumah dan μενήιν yang artinya berdiam.  Jadi oikumene adalah rumah tempat berdiam. Di dalam perjanjian baru kata oikumene menunjuk pada kerajaan Allah.( Ibrani 2 : 5)[1]

 

            Terdapat banyak kritik dari berbagai kalangan mengenai tata ibadah yang digunakan di dalam sejumlah persekutuan kampus. Bukan hanya di FIB. Tetapi juga persekutuan di fakultas lainnya di lingkup UI. Jika persekutuan kampus menganut interdenominasi mengapa ada kesan denominasi tertentu yang ditonjolkan? Jika persekutuan di tempat ini dibentuk oleh kesepakatan oleh founding father kita, mengapa tidak boleh diamandemen? Banyak sekali muncul keluhan-keluhan semacam itu.

 

            Melalui tulisan ini saya ingin menjawab masalah itu. Memang benar, dalam menentukan tata ibadah adalah hasil dari kesepakatan para founding father kita. Akan tetapi jangan dilupa juga, walaupun hasil kesepakatan manusia, Roh Kudus memiliki peranan yang jauh lebih besar. Jadi apapun hasilnya, apapun bentuknya, hal yang paling penting adalah persekutuannya. Kita harus memaknai persekutuan dengan tata ibadah yang sudah ada sebagai anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Sebagai belas kasihan Tuhan kepada kita agar kita dapat memiliki relasi dengan Dia.

 

            Lantas menyoal makna interdenominasi bukanlah masalah demokrasi politis semata, yang mana kesepakatan tercipta dengan harapan mampu mengakomodasi semua kepentingan, semua keinginan, kenyamanan kita dalam beribadah terpenuhi. -Bukan juga masalah masalah mau makan dimana, bukan juga masalah mau makan apa melainkan saya butuh makan.- Melainkan bagaimana caranya kita memandang sebuah persekutuan dengan lebih arif. Persekutuan ada bukan karena Saya mau bersekutu, atau saya mau beribadah karena nyaman, suka, dan cocok dengan tata ibadah tersebut. Melainkan, karena saya sadar saya butuh persekutuan. Butuh memiliki keintiman dengan Tuhan. Saya butuh makan. Terserah mau makan apa atau mau rasa apa yang penting saya makan.

 

            Masalah klasik yang tetap akan menjadi isu kontemporer sampai kapanpun tak akan pernah selesai Jika kita masih memahami persekutuan sebagai masalah “mau makan kalau sesuai dengan selera saya”. Mari teman-teman apapun makanan yang tersedia di hadapan kita baik itu sesuai selera kita atau tidak harus tetap kita makan agar kita tidak mati secara rohani.

 

Seperti mencoba memadamkan api di padang gurun, yang mana kita melihat air yang hanyalah sebuah fatamorgana. “

 

 

 

 

                                                                                                Richard Losando

Mahasiswa Filsafat Politik Postmodern dan  Pengurus PO FIB UI



[1] wikipedia

Dikotomis Tubuh dan Jiwa dalam Pandangan Kristenisme

Dikotomis Tubuh dan Jiwa dalam Pandangan Kristenisme

 

Latar belakang :

            Problem dualisme tubuh dan jiwa bukanlah barang baru di dalam khazanah pemikiran filsafat. Problem ini sebenarnya sudah ada dimulai dari pemikiran Plato mengenai dunia Idea. Namun, pada pemikiran Plato ini tidak terlalu eksplisit membedakan antara Tubuh dan Jiwa. Dalam pemikiran Plato, dia membagi realitas menjadi dua. Yaitu dunia idea dan dunia inderawi[1]. Dunia yang real adalah dunia idea. Sedangkan dunia inderawi adalah dunia yang merupakan tiruan dari dunia Idea tersebut.

Banyak asumsi yang muncul yang mengatakan bahwa munculnya dualisme terhadap tubuh dan jiwa manusia yang ada pada dokrin kristenisme akibat dari pengaruh filsafat Platonisme. Namun, sebenarnya filsuf yang benar-benar membuat dualisme tubuh dan jiwa secara literal adalah Rene Descartes. Pembagian dari Descartes ini menjadi awal dari problem dualisme tubuh dan jiwa yang tak terselesaikan hingga kini.

 

Latar belakang terbentuknya dualisme tubuh dan jiwa berdasarkan Alkitab.

 

Di dalam Doktrin kristenisme sebenarnya banyak konsep mengenai dualisme. Mungkin saja dipengaruhi oleh tata bahasa yang digunakan oleh para penulis kitab yang mengunakan bahasa Ibrani dan Yunani yang memilik makna yang lebih dari satu makna pada setiap katanya. Tata bahasa Yunani ini, kemudian memperngaruhi tata bahasa romawi[2]. Tidak heran memang, muncul spekulasi bahwa konsep Dualisme dalam kristenisme mungkin saja bukan berasal langsung dari Firman Tuhan, tetapi terpengaruh bahasa yang digunakan oleh penulis kitab. Sebagai contoh kata kasih. Di dalam bahasa Yunani kata kasih bisa menggunakan kata Agape ataupun kata Eros. Namun, kedua kata kasih ini memiliki perbedaan, yaitu Agape adalah kasih untuk menunjukan kasih Ilahi sedangkan Eros menunjukan kepada kasih manusia.[3]

Namun, spekulasi tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena, pada perjanjian lama pemahaman mengenai dualisme Tubuh dan Jiwa pada manusia sebenarnya sudah ada. Pada kejadian 2 : 7 “ ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.[4]

 

Gagasan mengenai Manusia dibuat dari dua bagian.

 

Sebenarnya manusia itu dibuat dari berapa bagian? Sebenarnya di dalam ajaran Kristen ada dua pandangan mengenai keterbentukan manusia. pandangan tersebut adalah pandangan bahwa manusia diterbentuk secara dualistik antara tubuh dan jiwa serta pandangan mengenai manusia diciptakan secara trikotomi antara tubuh, jiwa dan roh. Namun disini, saya akan lebih membahas mengenai pandangan dualisme keterbentukan manusia.

Menurut kamus teologi pengertian dari kata dualisme adalah suatu ajaran yang menyatakan bahwa manusia terdiri atas jiwa yang bersifat rohani dan juga yang bersifat bendawi[5]. Konsep ini secara umum tidak berbeda jauh dengan pemikiran filsuf lainnya yang membahas dualisme.  Jiwa yang bersifat rohani maksudnya jiwa yang mempunyai kemampuan memahami atau menghayati untuk melibatkan diri dengan Tuhan, membangun suatu relasi dengan sang khalik, dan memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Jiwa yang bersifat bendawi maksudnya manusia diciptakan oleh Allah dari tanah dan akan mati menjadi tanah. Makna bendawi disini dapat dilihat oleh mata yaitu jasad, fisik, tubuh. Dan makna tersebut bersifat tidak abadi.[6]

Beberapa contoh untuk membuktikan bahwa adanya dualisme tubuh dan jiwa pada pandangan kristenisme berasal dari Alkitab. "Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku," (Lukas 1:46-47). "Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi...," (Yesaya 26:9).[7] Ayat-ayat diatas dualisme antara jiwa dengan hati, disini jiwa dan hati dianggap berbeda. Kemudian ada beberapa ayat lagi yang membagi dualisme tubuh dan jiwa. Seperti di alkitab versi terjemahan Firman Allah Yang Hidup tertulis "Jadi, nasihat-Ku ialah: Janganlah kuatir akan benda --makanan, minuman, dan pakaian. Karena kalian sudah mempunyai jiwa dan tubuh. Itu jauh lebih penting daripada makanan dan pakaian. (Matius 6 : 25)[8]

 

Asal usul jiwa menurut pandangan Kristen.

 

Ada beberapa pandangan mengenai asal usul terciptanya jiwa menurut pandangan kristenisme. Pandangan tersebut antara lain, Traducianisme dan Kreasionisme. Apakah yang dimaksud dengan Traducianisme? Traducianisme adalah suatu pandangan bahwa Jiwa manusia diperoleh bersamaan dengan tubuh saat kelahiran, dan karenanya ditransmisikan kepada anak oleh orang tuanya. (Berkhoff, Systematic Theology. p. 197.) munculnya pemikiran ini salah satunya berasal dari  Penciptaan Hawa (Kej 2:21-23, 1 Kor 11:8) yang berbeda dengan penciptaan Adam. Pada penciptaan Adam, tubuh berasal dari tanah / bumi, sedangkan jiwanya berasal dari Tuhan (Kej 2:7). Tetapi pada waktu Allah menciptakan Hawa, tidak pernah dikatakan ada elemen dari Hawa yang berasal dari Tuhan. Jadi, harus disimpulkan bahwa baik tubuh maupun jiwa Hawa berasal dari Adam.[9]

Sedangkan kreasionisme adalah suatu pandangan yang mengatakan bahwa Tubuh anak berasal dari orang tuanya, tetapi jiwanya merupakan ciptaan langsung dari Tuhan. dasar dari pandangan ini adalah Pertama, Allah membedakan asal usul jiwa dengan asal usul tubuh (Pengkhotbah 12:7; Yesaya 42:5; Zakharia 12:1; Ibrani 12:9). Kedua, jika Allah menciptakan jiwa setiap orang pada saat dibutuhkan, pemisahan antara jiwa dan tubuh tetap dipegang teguh. Kelemahan dari Kreatinionisme adalah Allah terus menerus menciptakan jiwa manusia yang baru padahal Kejadian 2:2-3 mengindikasikan bahwa Allah telah berhenti mencipta. Juga karena seluruh keberadaan manusia, tubuh, jiwa dan roh telah dijangkiti oleh dosa  kalau Allah menciptakan jiwa yang baru untuk setiap orang, bagaimana jiwa tsb. dijangkiti oleh dosa?[10]

 

Kesimpulan

Pandangan dualisme ini ternyata bukan hanya menjadi kajian serius dari Philosophy of Mind, tetapi juga sama seriusnya di dalam tataran teologi kristiani. Tidak bisa dipungkiri memang implikasi dari masalah dualisme tubuh dan jiwa ini sangat erat terhadap kepercayaan setelah manusia meninggal. Kehidupan setelah kemanusia hanya untuk jiwa saja, ataukah tubuh juga sama-sama dengan jiwa menikmati kehidupan setelah kematian? Problem dualisme tubuh dan jiwa manusia ini akan menarik lagi untuk dibahas dalam suatu kajian eskatologi pada pandangan Kristen. Namun, saya membatasi hanya untuk membahas mengenai dualisme tubuh dan jiwa saja. masalah apakah ada tubuh dan jiwa itu? Berdasarkan elaborasi diatas saya tegas mengatakan ada di dalam pandangan kristenisme, tetapi apakah antara tubuh dan jiwa itu berbeda atau satu? Jawabannya adalah dengan mengkaji lebih serius problem eskatologi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1                     Sejarah Filsafat Yunani. Dr. K.bertens hal. 109

2.                http://kampusislam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=44

3.                  www.seabs.ac.id/.../Polarisasi%20Dikotomis%20Agape%20dan%20Eros.pdf

4.                  Alkitab.LAI. hal.2

5.                  http://joas.gkipi.org/kuliah/pit2010/tugas-pit2010/glossary-pit2010/dikotomi-trikotomi-dichotomytrichotomy/

6.                  http://carm.org/languages/indonesian/doktrin-kekristenan-0

7.                  http://sabdaweb.sabda.org/bible/chapter/?b=40&c=6&version=fayh&lang=indonesia&theme=clearsky

8.                  http://anenmangapul.blogspot.com/2009/07/asal-usul-jiwa-manusia.html

9.                  http://www.gotquestions.org/indonesia/jiwa-manusia-diciptakan.html

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Sejarah Filsafat Yunani. Dr. K.bertens hal. 109

[2] http://kampusislam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=444

[3] www.seabs.ac.id/.../Polarisasi%20Dikotomis%20Agape%20dan%20Eros.pdf

[4] Alkitab.LAI. hal.2

[5] http://joas.gkipi.org/kuliah/pit2010/tugas-pit2010/glossary-pit2010/dikotomi-trikotomi-dichotomytrichotomy/

[6] Ibid.

[7] http://carm.org/languages/indonesian/doktrin-kekristenan-0

[8] http://sabdaweb.sabda.org/bible/chapter/?b=40&c=6&version=fayh&lang=indonesia&theme=clearsky

[9] http://anenmangapul.blogspot.com/2009/07/asal-usul-jiwa-manusia.html

[10] http://www.gotquestions.org/indonesia/jiwa-manusia-diciptakan.html