ini adalah sebuah cerita mengenai perjalanan memperoleh makna kehidupan. ada seorang manusia yang terlahir dan tumbuh besar dalam kemewahan. hidup bahagia dan tak pernah melihat dan merasakan kesengsaraan hidup. telah berkeluarga,ketika anaknya lahir dia bertanya, "anak ini berasal dari mana? apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?" dia berpikir namun tak berhasil menemukannya.
namun tak bisa dipungkiri hidup itu memang misteri, keluarganya dan kebahagiaannya lenyap. keluarga meninggal karena kecelakaan dan hartanya habis terbakar. lantas apa yang tersisa? hanya sebuah pertanyaan " mengapa hidupku begini?" dan dia berusaha menabahkan dirinya. "apakah ada kehidupan setelah kematian?"
inilah awal dari perjalanan panjang mencari makna hidup.pencarian kepuasan tertinggi atas misteri kehidupan. menjadi musafir menjadi pilihan logis untuk menjawab "kedua pertanyaan" yang tersimpan dan bergulat atas pencarian jawaban.
dia memutuskan bertanya kepada suatu ahli agama. apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?" sang ahli agama menjawab " Tuhan menciptakan manusia, manusia berasal dari-Nya, jadi kehidupan sebelum kehidupan hanya ada pada Tuhan." dia merasa tak puas dengan jawaban tersebut dan belum sempat dia menanyakan pertanyaan kedua kepada ahli agama ia pergi dan kembali mencari jawaban ketempat lain.
lalu bertemulah dia kepada seorang ahli spiritual. dan menanyakan kembali pertanyaan pertama. "apakah ada kehidupan sebelum kehidupan guru?" lalu sang ahli spiritual menjawab " apakah engkau sekarang merasa hidup?" "saya rasa sekarang ini saya hidup." kata ahli spiritual "saat ini saya tidak tahu apakah saya menjalani kematian atau bergulat dalam kehidupan, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaanmu." lalu manusia ini pergi kembali mencari jawaban.
sampailah kepada seorang ahli filsafat. ahli makna hidup yang senantiasa merenungkan kehidupan. "apakah ada kehidupan sebelum kehidupan?" dan " apakah ada kehidupan setelah kematian?" lalu sang ahli filsafat " jika engkau mampu menghitung jumlah rambut-mu dan mengetahui jumlah pasir dipantai, engkau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu." lalu dia bingung dan menjawab " saya rasa saya tak akan bisa menghitung jumlah rambutku dan mengetahui secara pasti jumlah pasir di pantai." jawab sang ahli filsafat " artinya anda telah menemukan atas pertanyaan anda sendiri." "dia tak mengerti atas perkataan ahli filsafat tadi"
singkat cerita ia menjadi muris sang ahli filsafat untuk mengerti jawab tersebut.
No comments:
Post a Comment